Sariawan Oh Sariawan
“Dok, tolong dong obatnya dikasih yang cespleng! Lihat nih sariawan saya, sudah tiga kali berobat, belum sembuh-sembuh.”
Seorang ibu muda, berbicara tanpa henti di hadapanku .
Belum lagi aku menjawab, ia kembali membuka mulut.
“Resep luar juga boleh, Dok. Yang penting sembuh. Saya tersiksa sekali dengan penyakit ini. Minum gak enak, apalagi makan,” cerocosnya lagi.
“Nah, Ibu tenang dulu ya. Sekarang giliran saya yang bertanya. Sudah berapa hari Ibu sariawan?” tanyaku sambil menulis keluhan sang ibu di buku rekam medis.
“Pokoknya lama deh.”
Aku telusuri lembar demi lembar rekam medis tersebut. Ternyata keluhan tersebut telah berlangsung selama hampir satu bulan.
“Selain sariawan, ada keluhan lain tidak yang ibu rasakan? Seperti nyeri menelan atau demam?” selidikku.
Ibu tersebut menggeleng, lalu membuka mulut untuk menunjukkan sariawan yang ukurannya cukup besar. Aku perhatikan permukaan tenggorokan. Bagus, tidak tampak tanda peradangan. Tonsil juga tidak terlihat membesar. Tanda-tanda vitalnya juga menunjukkan hasil yang normal.
“Bagaimana dengan makanan yang Ibu konsumsi? Apakah sudah dipantang sesuai anjuran dokter-dokter sebelumnya?” tanyaku.
“Sudah, Dok! Saya tidak lagi makan makanan yang berminyak, pedas, asam, dam sejenisnya. Sayur dan buah sudah saya perbanyak. Obat-obatan yang diberikan sudah saya minum. Tetapi kenapa gak sembuh juga,” keluhnya lagi.
Aku pun mulai menimbang berbagai kemungkinan penyebab penyakit sariawan pada sang ibu. Sebelum memutuskan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium, aku mencoba menggali sebanyak mungkin informasi dari pasien.
“Bu, melihat perjalanan penyakit Ibu, ada suatu kemungkinan yang belum bisa disingkirkan.” Aku terdiam sejenak.
“Bagaimana dengan pikiran? Apakah belakangan ini, Ibu sedang mengalami masalah?”
Ibu muda tersebut terlihat ragu untuk menjawab.
“Eh... Ah, ada sih Dok. Tapi masak sih ada hubungannya dengan penyakit sariawan?”
“Ya bisa jadi ada hubungannya, Bu. Karena jiwa dan raga itu adalah satu kesatuan. Bila jiwa dalam keadaan kurang baik, akan berpengaruh ke kondisi fisik ibu. Itu yang dikenal di dunia medis dengan istilah psikosomatis. Yaitu kumpulan gejala fisik yang diakibatkan oleh kondisi psikis yang kurang baik. Tentu saja penyakit ini tidak akan sembuh bila penyebabnya tidak diselesaikan. Dari raut muka Ibu memang terlihat kurang cerah. Ada masalah rumah tanggakah?”
Ternyata pancinganku tepat. Ia mulai berkeluh kesah tentang masalah di rumahnya. Setelah digali lebih lanjut ternyata sariawan tersebut memang muncul bertepatan dengan problem yang sedang dihadapinya. Aku pun lebih banyak berperan sebagai pendengar dan mencoba memberikan saran terhadap masalah pribadinya tanpa harus menggurui.
Lima belas menit konsultasi, sang ibu pulang dengan membawa sehelai resep berisi vitamin. Tak lupa kudoaakan semoga ia cepat diberi kesembuhan oleh Sang Maha Penyembuh. Di lembar rekam medis kutuliskan diagnosis akhir penyakitnya. Psikosomatis stomatitis et causa mertua. Alias penyakit sariawan ini timbul sejak sang mertua tinggal bersamanya.
Based on true story.
“Dok, tolong dong obatnya dikasih yang cespleng! Lihat nih sariawan saya, sudah tiga kali berobat, belum sembuh-sembuh.”
Seorang ibu muda, berbicara tanpa henti di hadapanku .
Belum lagi aku menjawab, ia kembali membuka mulut.
“Resep luar juga boleh, Dok. Yang penting sembuh. Saya tersiksa sekali dengan penyakit ini. Minum gak enak, apalagi makan,” cerocosnya lagi.
“Nah, Ibu tenang dulu ya. Sekarang giliran saya yang bertanya. Sudah berapa hari Ibu sariawan?” tanyaku sambil menulis keluhan sang ibu di buku rekam medis.
“Pokoknya lama deh.”
Aku telusuri lembar demi lembar rekam medis tersebut. Ternyata keluhan tersebut telah berlangsung selama hampir satu bulan.
“Selain sariawan, ada keluhan lain tidak yang ibu rasakan? Seperti nyeri menelan atau demam?” selidikku.
Ibu tersebut menggeleng, lalu membuka mulut untuk menunjukkan sariawan yang ukurannya cukup besar. Aku perhatikan permukaan tenggorokan. Bagus, tidak tampak tanda peradangan. Tonsil juga tidak terlihat membesar. Tanda-tanda vitalnya juga menunjukkan hasil yang normal.
“Bagaimana dengan makanan yang Ibu konsumsi? Apakah sudah dipantang sesuai anjuran dokter-dokter sebelumnya?” tanyaku.
“Sudah, Dok! Saya tidak lagi makan makanan yang berminyak, pedas, asam, dam sejenisnya. Sayur dan buah sudah saya perbanyak. Obat-obatan yang diberikan sudah saya minum. Tetapi kenapa gak sembuh juga,” keluhnya lagi.
Aku pun mulai menimbang berbagai kemungkinan penyebab penyakit sariawan pada sang ibu. Sebelum memutuskan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium, aku mencoba menggali sebanyak mungkin informasi dari pasien.
“Bu, melihat perjalanan penyakit Ibu, ada suatu kemungkinan yang belum bisa disingkirkan.” Aku terdiam sejenak.
“Bagaimana dengan pikiran? Apakah belakangan ini, Ibu sedang mengalami masalah?”
Ibu muda tersebut terlihat ragu untuk menjawab.
“Eh... Ah, ada sih Dok. Tapi masak sih ada hubungannya dengan penyakit sariawan?”
“Ya bisa jadi ada hubungannya, Bu. Karena jiwa dan raga itu adalah satu kesatuan. Bila jiwa dalam keadaan kurang baik, akan berpengaruh ke kondisi fisik ibu. Itu yang dikenal di dunia medis dengan istilah psikosomatis. Yaitu kumpulan gejala fisik yang diakibatkan oleh kondisi psikis yang kurang baik. Tentu saja penyakit ini tidak akan sembuh bila penyebabnya tidak diselesaikan. Dari raut muka Ibu memang terlihat kurang cerah. Ada masalah rumah tanggakah?”
Ternyata pancinganku tepat. Ia mulai berkeluh kesah tentang masalah di rumahnya. Setelah digali lebih lanjut ternyata sariawan tersebut memang muncul bertepatan dengan problem yang sedang dihadapinya. Aku pun lebih banyak berperan sebagai pendengar dan mencoba memberikan saran terhadap masalah pribadinya tanpa harus menggurui.
Lima belas menit konsultasi, sang ibu pulang dengan membawa sehelai resep berisi vitamin. Tak lupa kudoaakan semoga ia cepat diberi kesembuhan oleh Sang Maha Penyembuh. Di lembar rekam medis kutuliskan diagnosis akhir penyakitnya. Psikosomatis stomatitis et causa mertua. Alias penyakit sariawan ini timbul sejak sang mertua tinggal bersamanya.
Based on true story.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar